Pemahaman (understanding) adalah anugerah yang membutuhkan kerendahan hati. Tanpa sikap mau mendengarkan semua orang hanya akan terjebak dalam “monolog massal” di mana semua orang bicara tapi tidak ada yang benar-benar mengerti.
Bangun Ende dengan Dialog
Mungkin terkesan klise frasa “bangun Ende dengan dialog” tapi jika kita telisik komposisi Ende yang disusun oleh beragam suku dan agama, rasa-rasanya dialog amatlah penting. Saya kira kita bisa belajar dari Uskup Agung kita yang amat kita kasihi Mgr. Paul Budi Kleden SVD. Motto episkopal “Peliharalah Kasih Persaudaraan” sebagai motto kegembalaan beliau merupakan penegasan betapa umat keuskupan ini amat beragam dan kaya latar belakang. Oleh karena itu, memelihara kasih persaudaraan dalam relasi sosial yang majemuk itu adalah jembatan yang menghubungkan bukan tembok yang menghalangi.
Di kabupaten Ende pun demikian. Kekayaan keragaman itu hanya bisa dikelola dengan gaya komunikasi yang mantap tapi tidak kaku, yang santai tapi tegas. Lembut dalam cara, tapi tegas dalam prinsip (fortiter in re, suaviter in modo). Mungkin bisa dimulai dengan sekadar “say hallo,” sebuah sapaan (greetings) yang terkesan sederhana tetapi penting sekali dalam perspektif teori komunikasi yang diintrodusir oleh Iris Marion Young. Menyapa itu penting sekali dalam komunikasi, terutama bagi seorang politisi seperti bupati Yosef. Dulu waktu masih “nyalon”, bupati Badeoda rajin menyapa masyarakat calon pemilih, bikin janji ini dan itu, mungkin hal itu bisa direplikasi ketika sedang menjabat agar tembok-tembok kekakuan itu roboh.













