Menara Babel. Kita tentu saja mengingat kisah robohnya menara Babel di dalam Alkitab, bukan? Moral dari kisah tersebut sederhana tetapi relevan: komunikasi! Kesombongan dan kepongahan manusia (hubris) membuatnya tidak dapat berkomunikasi dengan bahasa dialogis yang terbuka dan rasional, pada gilirannya saling menyalahkan yang berujung pada situasi kaotik. Bahasa digunakan bukan sebagai medium dialog tetapi untuk saling menundukkan.
Dalam kisah menara Babel, akar soalnya bukan pada komunikasi sebagai masalah teknis dengan bahasa dan logat yang sama, melainkan masalah etis. Kesombongan dan kedegilan hati orang-orang Babel itu pada akhirnya hanya menjadi ajang pamer kekuasaan dan merendahkan yang lain yang berujung pada situasi kaotik.
Babel melambangkan daya upaya manusia untuk menyeragamkan segala sesuatu demi kendali total. Penguasa tidak ingin ada bahasa lain selain rasa bahasa yang dikehendaki olehnya. Suara sumbang dan kritik tidak diperkenankan, karena itu dianggap menggangu stabilitas. Dalam konteks Ende, kritik anak-anak PMKRI dipandang sebagai “provokator” dan dengan demikian tidak pantas untuk diajak dialog. Komunikasi yang hendak menyeragamkan segala sesuatu tidak lain merupakan komunikasi totaliter!













