Scroll untuk baca artikel
ads

Jangan Bangun Ende Dengan Muka Keram

×

Jangan Bangun Ende Dengan Muka Keram

Sebarkan artikel ini
Reporter: Tommy Mbenu Nulangi |  Editor: Redaksi
IMG 20260414 210310
Arianto Zany Namang.

Menara Babel. Kita tentu saja mengingat kisah robohnya menara Babel di dalam Alkitab, bukan? Moral dari kisah tersebut sederhana tetapi relevan: komunikasi! Kesombongan dan kepongahan manusia (hubris) membuatnya tidak dapat berkomunikasi dengan bahasa dialogis yang terbuka dan rasional, pada gilirannya saling menyalahkan yang berujung pada situasi kaotik. Bahasa digunakan bukan sebagai medium dialog tetapi untuk saling menundukkan.

Dalam kisah menara Babel, akar soalnya bukan pada komunikasi sebagai masalah teknis dengan bahasa dan logat yang sama, melainkan masalah etis. Kesombongan dan kedegilan hati orang-orang Babel itu pada akhirnya hanya menjadi ajang pamer kekuasaan dan merendahkan yang lain yang berujung pada situasi kaotik.

Advertising
ads
Advertising

Babel melambangkan daya upaya manusia untuk menyeragamkan segala sesuatu demi kendali total. Penguasa tidak ingin ada bahasa lain selain rasa bahasa yang dikehendaki olehnya. Suara sumbang dan kritik tidak diperkenankan, karena itu dianggap menggangu stabilitas. Dalam konteks Ende, kritik anak-anak PMKRI dipandang sebagai “provokator” dan dengan demikian tidak pantas untuk diajak dialog. Komunikasi yang hendak menyeragamkan segala sesuatu tidak lain merupakan komunikasi totaliter!

Baca Juga :   Warga Kurang Mampu di Kelurahan Kota Ratu Dapat Bantuan Sosial dari Anggota Polres Ende
Tag:

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.