Oleh Dr (C). Ir. Karolus Karni Lando MBA
RAKYATFLORES.COM | OPINI-Jumat Agung tahun ini kembali menjadi saksi betapa kokohnya iman umat Katolik di Larantuka. Langit gelap dan hujan turun sejak pagi tak menyurutkan langkah umat untuk mengikuti seluruh rangkaian prosesi. Di sepanjang jalan, dari anak-anak kecil hingga lansia, semua tetap berlutut, berdoa, dan menangis dalam keheningan penuh harap. Angin menderu, hujan mengguyur, namun tiada satu pun umat yang mundur. Semua tetap bertahan dalam doa dan cinta rela mati di kaki Tuhan Yesus karena imannya.
Prosesi tetap berjalan khusyuk. Tuan Ma dan Tuan Ana; dua patung suci yang menjadi pusat devosi umat Larantuka tetap keluar dari gereja sebagaimana tradisi yang dijaga turun-temurun. Saat mereka sampai di pemberhentian terakhir di depan Patung Pieta, hujan masih saja turun. Namun, di sinilah iman umat justru menemukan kemurniannya yang sejati.
“Kami tidak meminta hari cerah, kami hanya ingin tetap setia berjalan bersama Tuhan, bahkan di bawah hujan sekalipun,” ujar seorang umat dengan mata berkaca-kaca.











