Dalam tradisi Gereja Katolik, banyak orang diberi nama baptis atau nama saku yang merujuk pada seorang Santo atau Santa. Tujuannya bukan hanya untuk menghormati, tetapi juga agar kita memiliki patronus (pelindung atau penjaga), seorang pendoa dan inspirasi. Dengan demikian, makna dari nama santo itu bisa dirangkum dalam tiga dimensi, yakni:
Pertama teladan hidup: mereka menunjukkan bahwa kekudusan itu mungkin, bahwa dalam konteks hidup yang beragam pun, seseorang bisa menjadi kudus.
Kedua syafaat doa: Kita percaya bahwa para kudus mendoakan kita, layaknya sahabat rohani di surga.
Ketiga identitas rohani : Nama itu menjadi semacam stempel iman yang mengingatkan kita akan misi hidup, baik dalam kesaksian maupun pengabdian.
Jadi, ketika kita menyebut atau diingatkan akan nama Santo kita, seolah Tuhan berkata, Lihatlah teladan ini, aku memanggilmu untuk menjadi saksi kasih di jalan yang unik seperti dia.
Pertanyaan Refleksi:
1. Apakah kita menghidupi makna nama kita sebagai anak-anak Allah yang dipenuhi kasih dan tujuan-Nya?
2. Seperti Yohanes, apakah kita pun dipanggil untuk menjadi berkat dan mencerminkan kemurahan Tuhan di dunia?











