Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK
RAKYATFLORES.COM | RENUNGAN-DAMAI BAGIMU, para saudaraku ytk.dalam Kristus.Saya berharap menjumpai para saudaraku dalam suasana yang damai, sehat dan bahagia. Pada hari ini Gereja Katolik sejagat merayakan Hari Raya Kelahiran Santo Yohanes Pembaptis.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Lukas 1: 57 – 60. 80. Dalam bacaan Injil hari ini, dikisahkan, ketika Elisabeth melahirkan, kerabat dan tetangganya mengira anak itu akan diberi nama menurut tradisi keluarga: Zakharia, seperti ayahnya. Namun, Elisabeth bersikeras: “Ia harus dinamai Yohanes.” Saat Zakharia menulis nama yang sama, mulutnya terbuka, ia bisa berbicara lagi. Semua orang takjub, dan bertanya-tanya: apakah gerangan anak ini kelak?
Dalam budaya Yahudi, nama bukan sekadar identitas; melainkan nama mengandung harapan, misi, dan panggilan. Nama Yohanes berarti Tuhan itu murah hati. Dan memang, hidup Yohanes menjadi penggenapan kemurahan Allah yang mempersiapkan jalan bagi Mesias. Kita pun sering menerima nama dari orang tua, leluhur, atau budaya. Namun, bacaan Injil hari ini mengajak kita merenung lebih dalam: apa arti nama kita di hadapan Tuhan? Nama yang diberikan surga tidak selalu mengikuti kebiasaan, tradisi, tetapi mengandung panggilan Ilahi yang membentuk jalan hidup kita. Seperti Yohanes, kita dipanggil untuk menjadi tanda kemurahan Tuhan di tengah dunia. Maukah kita menjalani hidup seturut nama yang diberikan Tuhan kepada kita, yang mungkin tidak tertulis di akta kelahiran, tetapi terukir dalam hati-Nya? Jadi, nama kita, entah nama pemberian orang tua atau nama biara atau tarekat yang kita sandang bukan sekadar tambahan identitas; itu bisa menjadi cerminan teladan hidup, pengingat panggilan, dan penjaga spiritual sepanjang perjalanan kita.











