Scroll untuk baca artikel
ads

Mencari Titik Tengah antara Budaya dan Keamanan, Refleksi Sosiologis atas Penertiban Moke di NTT

×

Mencari Titik Tengah antara Budaya dan Keamanan, Refleksi Sosiologis atas Penertiban Moke di NTT

Sebarkan artikel ini
Reporter: Tommy M. Nulangi |  Editor: Redaksi
Biru Kuning Modern Perjalanan Facebook Cover 20251110 102625 0000
Patricius Marianus Botha, S.Fil.,M.Si, Dosen STPM Santa Ursula.

Pertama, pendekatan partisipatif: negara dan aparat keamanan harus melibatkan tokoh adat, akademisi, dan masyarakat lokal dalam merumuskan kebijakan tentang moke. Dialog sejajar jauh lebih produktif daripada kebijakan satu arah. Dalam forum-forum adat, tokoh masyarakat bisa berperan menyepakati batasan konsumsi dan distribusi moke tanpa menghilangkan nilai simboliknya.

Kedua, pendekatan pemberdayaan ekonomi dan teknologi: pemerintah daerah bisa membantu masyarakat mengembangkan industri moke tradisional menjadi produk legal dan berstandar higienis. Perguruan tinggi dapat meneliti proses penyulingan moke tradisional agar aman dikonsumsi tanpa kehilangan keaslian rasa dan maknanya. Jika Bali mampu mengangkat arak Bali menjadi produk legal berkelas, mengapa NTT tidak bisa melakukan hal yang sama dengan moke?

Advertising
ads
Advertising

Ketiga, pendekatan kultural-edukatif: pendidikan publik perlu menghidupkan kembali makna moke sebagai simbol persaudaraan, bukan sebagai alat pelarian sosial. Institusi Agama, lembaga pendidikan, dan komunitas adat bisa bekerja sama memperkuat nilai moral di balik tradisi ini, agar generasi muda tidak memisahkan antara budaya dan etika sosial.

Baca Juga :   Ketua Umum Bhayangkari Pimpin Aksi Sosial di Ende, Salurkan 5.000 Paket Bantuan untuk 3 Kabupaten di NTT