Scroll untuk baca artikel
ads

Mencari Titik Tengah antara Budaya dan Keamanan, Refleksi Sosiologis atas Penertiban Moke di NTT

×

Mencari Titik Tengah antara Budaya dan Keamanan, Refleksi Sosiologis atas Penertiban Moke di NTT

Sebarkan artikel ini
Reporter: Tommy M. Nulangi |  Editor: Redaksi
Biru Kuning Modern Perjalanan Facebook Cover 20251110 102625 0000
Patricius Marianus Botha, S.Fil.,M.Si, Dosen STPM Santa Ursula.

Dengan langkah-langkah seperti ini, keamanan publik tetap terjaga tanpa harus mengorbankan kebudayaan lokal. Masyarakat merasa dihargai, negara tidak kehilangan wibawa, dan tradisi tetap hidup dalam bentuk yang lebih bijak dan berkelanjutan.
Moke bukan musuh pembangunan, melainkan cermin dari potensi sosial yang selama ini belum diberdayakan secara maksimal. Dalam terminologi sosiologi pembangunan, moke bisa dilihat sebagai modal sosial kultural—sumber energi kolektif yang dapat menggerakkan ekonomi, memperkuat identitas, dan memperdalam solidaritas sosial. Menghapusnya berarti menghapus satu lapis penting dari keindonesiaan yang plural.
Keamanan sejati bukan sekadar tentang mengurangi risiko, tapi tentang menciptakan harmoni sosial yang tumbuh dari rasa saling percaya. Masyarakat yang merasa dihormati tidak akan melawan aturan, dan negara yang memahami akar budayanya tidak perlu takut kehilangan kendali.

Baca Juga :   Konflik Agraria di NTT Semakin Masif Demi Investasi, Ansy Lema; Peran Masyarakat Tidak Boleh Diabaikan

Di ujung refleksi ini, kita perlu mengingat satu hal: modernitas yang gagal memahami budaya akan melahirkan alienasi, sementara budaya yang menolak keteraturan akan terjebak dalam stagnasi. Maka, titik tengah antara keduanya bukan sekadar kompromi, tetapi jalan tengah menuju pembangunan yang beradab dimana hukum menghormati budaya, dan budaya menghormati kehidupan.