Scroll untuk baca artikel
ads

Peziarah Pengharapan adalah Kesatria Cahaya

×

Peziarah Pengharapan adalah Kesatria Cahaya

Sebarkan artikel ini
Reporter: Tommy M. Nulangi |  Editor: Redaksi
1001215228
Agustinus Tetiro, Anggota Ikatan Sarjana Katolik Indonesia. (Foto: HO-Dok Pribadi Agustinus Tetiro).

“Aku takut kalau impianku menjadi kenyataan, aku jadi tidak punya alasan lagi untuk hidup… Tidak semua orang merasa bahagia kalau mimpinya menjadi kenyataan,” demikian yakin si pedagang.

Suatu hari, sang anak meminta izin untuk melanjutkan perjalananya mencari harta karun dengan mengikuti gerombolan peziarah yang dipandu para pengendara unta. Dia bertemu dengan seorang Inggris yang sibuk membaca buku dan sangat jarang melihat pemandangan dalam perjalanan. Sesekali mereka masuk dalam obrolan dan silang pendapat yang sengit. Dari si orang Inggris yang kutu buku ini, sang anak tahu tentang keberadaan sang alkemis, dia yang mengetahui banyak pengetahuan dan rahasia dunia.

Advertising
ads
Advertising

Perjalanan melintasi padang pasir kemudian mengharuskan mereka beristirahat di sebuah perkampungan oasis, untuk menghindari perang saudara yang tengah terjadi antarkaum di padang pasir. Mereka bergaul dengan orang-orang padang pasir setempat. Tertarik akan alkemis, sang anak mencari tahu ke orang-orang asli di situ. Di tepi sumurlah, sang anak bertemu kekasihnya Fatima, puteri padang pasir yang juga selalu menyatakan harapannya kepada padang pasir untuk memberinya hadiah. Baginya, pertemuan dengan sang anak lelaki adalah hadiah dari padang pasir.

Baca Juga :   Rendahnya HDI NTT, Alarm Pembangunan Manusia yang Tak Boleh Diabaikan

Maktub! yang berarti: “seperti yang telah tertulis”. Demikianlah yang diyakini oleh Fatima dan masyarakat Arab, bahwa segala sesuatu telah ditentukan Allah untuk kita umat manusia. Orang Arab dan umat Islam percaya, Wa Ila Robbika Farghob (dan hanya kepada Tuhanlah engkau berharap)

Si anak lelaki dan Fatima saling jatuh cinta dengan amat mendalam. Dengan harapan dan cinta yang mendalam itu, sang anak lelaki melanjutkan perjalanannya ke Mesir ditemani oleh sang alkemis. Ada banyak pengalaman dan pelajaran bermakna selama perjalanan sampai kemudian mereka ditangkap oleh pasukan perang di padang gurun. Sang Alkemis mempertaruhkan si anak lelaki dengan menyatakan kepada kepala pasukan bahwa sang anak adalah orang sakti yang bisa mengubah dirinya menjadi angin dan memporak-porandakan tempat mereka.

Baca Juga :   Padre Marco: Putra Terbaik Flores Timur Dalam Pelayanan Gereja Sedunia

Dengan berani dan rasa takut, sang anak lelaki memulai sesuatu yang membuatnya lebih mendengarkan hatinya: berbicara dengan (padang) pasir, angin dan matahari. Menjadi Kesatria Cahaya, memasuki Jiwa Dunia, berbicara dengan Tangan yang telah melukiskan semuanya: Tuhan. Akhirnya, dia dianggap lulus oleh sang alkemis dan pemimpin pasukan perang kaum padang pasir.