Scroll untuk baca artikel
ads

Matinya Marhaenisme di Kota Pancasila?

×

Matinya Marhaenisme di Kota Pancasila?

Sebarkan artikel ini
Reporter: Tommy Mbenu Nulangi |  Editor: Redaksi
IMG 20260505 WA0000
Sambil menangis, korban penggusuran di Jalan Irian Jaya, Else de Hoog keluar dari rumahnya dengan memeluk erat patung Bunda Maria.

Oleh: Rinto Namang

OPINI, RAKYATFLORES.COM-Kita tahu Pancasila dan Marhaenisme, ideologi yang memihak wong cilik (orang tertindas) itu, dilahirkan oleh Bung Karno. Sewaktu sang proklamator dibuang di Ende (1934-1938), di bawah rindangnya pohon sukun bercabang lima, ia merenung, menggali, dan merumuskan Pancasila, sebuah pandangan dunia (Weltanschauung) yang menjadi falsafah negara Indonesia.

Advertising
ads
Advertising

Sewaktu berjalan-jalan di tanah Sunda, Bung Karno berjumpa dengan pak Marhaen, seorang petani kecil yang punya alat produksi, yang menjadi inspirasinya merumuskan sebuah ideologi yang bernama marhaenisme, yang masih menjadi ideologi dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Sikap pro wong cilik PDIP yang selalu digaungkan oleh Megawati Sukarnoputri itu landasannya adalah Marhaenisme itu.

Baca Juga :   Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan, Anggota DPR RI Cheroline Makalew Ajak Milenial di Manokwari Amalkan Pancasila

Namun, sayang seribu sayang, sebuah ironi baru saja terjadi di kota Ende, tempat Bung Karno menghabiskan empat tahun hari-harinya di pengasingan. Sebuah rumah di jalan Irian Jaya, Kota Ende, yang selama ini didiami oleh opa Rofinus Sadipun sejak 1970an, lalu anaknya Adriana Sadipun, dan kini cucunya Rudi de Hoog, digusur oleh alat berat atas perintah Bupati Kabupaten Ende Sdr. Yosef Benediktus Badeoda.

Tag:

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.