Scroll untuk baca artikel
ads

Di Balik Gurihnya Santan: Perlukah Masyarakat Ende Waspada terhadap Kolesterol?

×

Di Balik Gurihnya Santan: Perlukah Masyarakat Ende Waspada terhadap Kolesterol?

Sebarkan artikel ini
Reporter: Tommy Mbenu Nulangi |  Editor: Redaksi
IMG 20260911 WA0021
Arini Zahratul Abidah, Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.

Menurut saya, di sinilah pembahasan mengenai masyarakat Ende dengan pola mengolah serta mengonsumsi makanan bersantan menjadi menarik. Masyarakat Ende mempunyai pola kuliner dan kebiasaan pengolahan makanan yang tidak selalu sama dengan masyarakat di daerah lain. Karena itu, hasil penelitian dari negara lain atau kelompok masyarakat lain belum tentu dapat menggambarkan kondisi masyarakat Ende secara langsung. Daripada langsung menyimpulkan bahwa makanan bersantan adalah penyebab tingginya kolesterol, akan lebih baik jika pertanyaannya dibuat lebih ilmiah: apakah terdapat hubungan antara pola konsumsi makanan bersantan dengan kadar kolesterol pada masyarakat Ende? Pertanyaan tersebut dapat menjadi dasar penelitian yang lebih spesifik. Frekuensi konsumsi, jenis makanan bersantan, jumlah atau porsi, dan kebiasaan makan lainnya dapat menjadi hal yang diperhatikan. Kadar kolesterol juga perlu diperoleh berdasarkan pemeriksaan, bukan hanya berdasarkan perkiraan atau keluhan seseorang.

Baca Juga :   Catatan Kritis Atas Curhatan Bupati Ende!

Menurut saya, pembahasan seperti ini penting karena dapat menghasilkan informasi yang lebih sesuai dengan kondisi masyarakat setempat. Jika ternyata terdapat hubungan antara pola konsumsi makanan bersantan dengan kadar kolesterol, masyarakat dapat memperoleh edukasi mengenai cara mengatur frekuensi dan porsi konsumsi. Sebaliknya, jika hubungan tersebut tidak ditemukan, masyarakat juga tidak perlu mendapatkan informasi yang berlebihan atau menakut-nakuti mengenai makanan tradisional yang selama ini mereka konsumsi.