Yang tidak kalah penting, menjaga kadar kolesterol tidak cukup hanya dengan menghindari satu jenis makanan. Pola makan secara keseluruhan, aktivitas fisik, berat badan, kebiasaan merokok, dan faktor genetik juga dapat berperan terhadap kesehatan kardiometabolik. Karena itu, menyalahkan santan sebagai satu-satunya penyebab kolesterol tinggi justru dapat membuat persoalan kesehatan menjadi terlalu sederhana.
Bagi saya, menjaga kesehatan tidak harus berarti meninggalkan makanan tradisional. Masyarakat Ende tetap dapat mempertahankan kekayaan kulinernya, termasuk makanan yang menggunakan santan, sambil membangun kebiasaan makan yang lebih seimbang. Yang diperlukan bukan ketakutan terhadap santan, tetapi kesadaran mengenai seberapa sering dan seberapa banyak makanan tersebut dikonsumsi.
Pada akhirnya, gurihnya santan tidak perlu menjadi musuh kesehatan. Namun, kebiasaan makan juga tidak seharusnya dianggap sepele. Daripada hanya berasumsi bahwa makanan bersantan menyebabkan kolesterol, akan jauh lebih bermanfaat jika kita mulai menelitinya secara ilmiah. Dengan mengetahui pola konsumsi dan kondisi kesehatan masyarakat Ende secara lebih spesifik, kita tidak hanya menjaga kesehatan, tetapi juga dapat memahami kebiasaan pangan masyarakat sendiri berdasarkan bukti, bukan sekadar anggapan.













