Scroll untuk baca artikel
ads

Puisi: Perjamuan Lidah di Bawah Sepatu

×

Puisi: Perjamuan Lidah di Bawah Sepatu

Sebarkan artikel ini
Reporter: Tommy M. Nulangi |  Editor: Redaksi
IMG 20260209 WA0080
Ilustrasi

Oleh: Ryan Laka

Di sebuah meja yang harum aroma uang dan janji, Kalian berkumpul merayakan hari yang katanya suci. Tapi pena-pena itu telah kalian rendam dalam air gula, Hingga tintanya tak lagi mampu menuliskan luka, Hanya mampu menyalin puja-puji yang disusun ajudan kota.

Advertising
ads
Advertising

Kalian sebut diri sebagai pilar keempat demokrasi, Namun leher kalian tunduk, tersangkut di ketiak kursi. Menghirup aroma kekuasaan seolah itu parfum surgawi, Sambil lidah kalian sibuk menjilat sisa-sisa remah roti, Yang dilemparkan Bupati dari sela jari-jari tirani.

Hari Pers Nasional bukan lagi tentang mencari fakta, Tapi tentang siapa yang paling lihai memoles kusta menjadi permata. Kalian tertawa bersama sang penguasa di panggung mewah, Sementara di sudut pasar, suara rakyat terdengar payah, Tertimbun berita-berita pesanan yang kalian tulis tanpa gairah.

Baca Juga :   Judul renungan hari ini: Mata Adalah Jendela Hati Untuk Mengumpulkan Harta Surgawi

Betapa malunya tinta yang lahir dari darah para pendahulu, Melihat kalian berswafoto, memamerkan senyum penuh debu. Kalian tukar integritas dengan amplop cokelat dan akses jalan, Membiarkan kebusukan tersimpan rapi di bawah karpet kantoran, Sambil berpura-pura menjadi pahlawan di rubrik opini mingguan.