Scroll untuk baca artikel
ads

Yunyun Dou, Rudy Badil, Desi Anwar dan Peran Media Bagi NTT

×

Yunyun Dou, Rudy Badil, Desi Anwar dan Peran Media Bagi NTT

Sebarkan artikel ini
Reporter: Tommy M. Nulangi |  Editor: Redaksi
1001251591
Keterangan: Gubernur NTT terpilih Emanuel Melki Laka Lena bersama sejumlah wartawan senior asal NTT di Jakarta. (Foto: HO-Dok Pribadi Agustinus Tetiro).

Oleh: Agustinus Tetiro, Administrator Forum Wartawan NTT SeduniaR

AKYATFLORES.COM | OPINI-Kendati Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah gudangnya para pekerja media arus utama, kali ini izinkanlah saya untuk menyebut tiga nama wartawan luar NTT untuk menggambarkan pentingnya media bagi NTT. Pilihan kepada tiga nama wartawan tersebut beralasan. Pertama, mereka semua pernah membuat laporan jurnalistik tentang NTT dalam kunjungan pertama. Kedua, masalah yang mereka angkat cukup representatif, baik dari segi tempat maupun dari segi problematika. Ketiga, meskipun dibuat beberapa tahun lalu, tulisan masing-masing pewarta itu kemudian dibukukan, sehingga lebih mudah ditemukan kembali dan direfleksikan untuk situasi sini-kini.

Advertising
ads
Advertising

Yunyun Dou adalah seorang reporter CCTV (China Central Television) asal Shanghai, China. Dalam karyanya berjudul “Indonesia Wo Ai Ni” (Penerbit Kompas, 2018), alumna Jurnalistik dari Universitas Fudan di Shanghai yang bertugas di Indonesia sejak 2010 ini menulis tentang Pulau Komodo. Yunyun Dou mengaku jatuh cinta pada pemandangan Pulau Komodo, bukan hanya soal pesona komodo itu, tetapi juga keindahan dalam laut Labuan Bajo. Yunyun menulis dengan gaya yang sangat informatif tentang Komodo dan Labuan Bajo. Banyak rasa kagum yang secara spontan ditampilkan. Pun, harapannya agar makin banyak promosi dan perbaikan sarana prasarana agar kian banyak orang tahu dan mau berkunjung ke Pulau Komodo.

Baca Juga :   Putra Terbaik NTT Karolus Karni Lando Dipercaya Jadi Koordinator Bali Nusa Tenggara DPP Perindo

Karya jurnalistik yang lebih naratif datang dari wartawan Kompas Rudy Badil, yang juga merupakan pendiri grup komedi Warkop DKI. Ketika ditugaskan ke Sumba Barat pada 24-31 Maret 1981, Badil menurunkan karya jurnalistik berjudul “Pesta Pasola di Lembah Wanukaka, Sumba Barat (2)” yang kemudian bersama kumpulan karya jurnalistik lainnya dari Rudy Badil diterbitkan secara anumerta oleh Penerbit Kompas berjudul “Sersan (2)” (2022), dengan editor Mulyawan Karim.

Setelah pada hari pertama melaporkan berita tentang pesta Pasola, Rudy Badil melihat ada kejadian baru pada hari berikutnya. Tiba-tiba pesta Pasola dihentikan petugas keamanan. Menurut petugas, Pasola harus dihentikan, karena telah memakan korban. Ada warga setempat yang terkena lemparan lembing saat menonton Pasola. Sementara itu, bagi masyarakat adat Sumba, Pasola adalah tradisi mereka yang harus dilestarikan untuk menjaga keseimbangan budaya. Seorang warga beradu mulut dengan petugas yang menghentikan Pasola dengan mengatakan, itu hal biasa, “Sudah menjadi adat kami, tiap upacara meminta darah…”

Baca Juga :   Kegembiraan Masyarakat Ende atas Pelantikan Anggota DPRD 2024-2029

Sebagai seorang wartawan dari Jakarta yang sekaligus juga alumnus program studi Antropologi Universitas Indonesia (UI), Rudy Badil membuat kesimpulan dengan jitu: “Di sini terlihat dua pola pemikiran umum yang masing-masing agak melenceng arahnya. Satu pihak lebih bersandar pada kebiasaan adat dengan konsepsi budaya pengatur tingkah laku masyarakatnya, sehingga keseimbangan perilaku warganya tetap dalam imbangan pas dan masih segan diubah mendadak sontak. Sedangkan di pihak lain, hanyalah berdasarkan catatan petunjuk kerja dan perintah tuntas. Sedangkan bekal pengalaman dan pengetahuan tentang manusia yang dihadapi, kadang-kala nihil atau baru menggapai kulit paling luar sekali” (“Sersan 2”, hlm.101)

Sementara itu, jurnalis CNN Indonesia Desi Anwar dalam buku karyanya berjudul “Faces & Places. 25 Tokoh dan 50 Tempat yang Menginspirasiku” (Jakarta: PT Gramedia, 2016), menulis pengalamannya saat pertama kali ke Kupang, NTT (23/03/2014). Lebih dari sepuluh tahun lalu, Desi Anwar menulis tentang Kupang yang paling kurang tersentuh pembangunan di bidang ekonomi, gizi, kesehatan, pendidikan, infrastruktur, dan sumber daya alam. “NTT mengalami jumlah kasus terbanyak anak dengan pertumbuhan terhambat, dan penyediaan makanan suplemen kaya gizi untuk ibu hamil serta bayi”

Baca Juga :   Gereja Perlu Waspada pada Pola “Sugar Daddy”

Desi juga bercerita tentang sinyal telepon yang hanya bagus di kota Kupang, tetapi tidak untuk di kampung-kampung. Juga, pengalamannya tentang soal pasokan listrik. “Bagaimana investor mau datang kalau hotel terbaik di Kupang pun sering kali mengalami mati listrik setiap 10 menit” (Lihat “Faces&Places”, hlm.140-143)