Kemarahan Gubernur NTT atas ketidakhadiran Pemerintah Kabupaten Ngada untuk melayat adalah kemarahan yang sah dan bermartabat. Pernyataan beliau menegaskan satu hal mendasar: kematian warga karena faktor sosial bukan peristiwa biasa. Kehadiran pemerintah dalam duka adalah bentuk paling elementer dari tanggung jawab negara. Seorang anak yang meninggal karena kemiskinan harus diperlakukan dengan hormat, karena ia mati sebagai manusia dan warga negara.
Namun, tragedi ini juga memanggil peran agama dan dunia pendidikan, khususnya di NTT yang dikenal sebagai wilayah religius. Kegiatan gereja, ibadah, perayaan iman, dan aktivitas pastoral terlihat sangat masif. Tetapi pertanyaan jujur perlu diajukan:
di mana pembinaan iman yang benar-benar menyentuh batin anak-anak miskin agar mereka tidak berputus asa?
Iman seharusnya menumbuhkan harapan, bukan diam di altar dan mimbar. Anak yang bunuh diri karena tidak mampu membeli buku menunjukkan bahwa ia kehilangan harapan, dan pada saat yang sama kehilangan pegangan iman. Ini adalah panggilan keras bagi gereja dan lembaga keagamaan untuk kembali pada inti pewartaan: membela yang kecil, menguatkan yang rapuh, dan menemani yang hampir menyerah.











