Bantuan Bencana Harus Berbasis Kebutuhan, Bukan Berbasis Ketersediaan Barang
Selama ini, pola bantuan sering kali bekerja secara sederhana: Ada barang, dikirim, dibagikan. Padahal seharusnya identifikasi kebutuhan, tentukan prioritas, pengadaan, distribusi, evaluasi. Inilah perbedaan antara bantuan yang sekadar charity-oriented dengan bantuan yang rights-based dan people-centered.
Dalam pendekatan berbasis hak, korban bencana tidak dipandang sebagai orang yang harus berterima kasih atas apa pun yang diberikan. Mereka dipandang sebagai pemegang hak yang berhak mendapatkan perlindungan, pangan, kesehatan, tempat tinggal, keamanan, informasi, dan pemulihan.
Karena itu, kebijakan bantuan bencana harus menempatkan korban sebagai pusat pengambilan keputusan.
Dari “Apa yang Kita Punya?” Menjadi “Apa yang Mereka Butuhkan?”
Paradigma bantuan harus berubah. Bukan: “Kami punya mie instan, jadi kami kirim mie instan.” Tetapi: “Apa kebutuhan pangan masyarakat hari ini, dan bagaimana kebutuhan itu dapat dipenuhi dengan aman, bergizi, dan sedapat mungkin melalui sumber daya lokal?”













