Oleh Afret Otu, SST., M.Par
Pemerhati
NTT layak mekar, bagaimana tidak layak mekar?, sebab dilihat dari berbagai indikator tentang berdirinya sebuah provinsi, Provinsi NTT telah memenuhi syaratnya. Sesuai dengan Pasal 5 ayat (1) Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dibentuk berdasarkan pertimbangan kemampuan yang memenuhi indikator menjadi sebuah provinsi baru seperti; Luas Wilayah, NTT merupakan Provinsi kepulaun dengan empat pulau besar kemudian disusul ribuan pulau kecil lainnya.
NTT memiliki jangkauan wilayah yang sangat luas, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) NTT tahun 2023 menyebut luas NTT 47.931,54 km2, jika dibandingkan luas NTT dan Bali, tentunya Bali tidak begitu luas, BPS Bali mencatat Bali hanya seluas 5,780 km², luas Bali hampir sama luas dengan satu Kabupaten di NTT, Bali hampir sama luas dengan Kabupaten Kupang yang memiliki luas 5,298 km².
Meskipun perbandingan Bali seluas satu kabupaten di NTT namun Bali menjadi satu Provinsi dengan 8 Kabupaten, siapa yang tidak tahu kemajuan Bali, Bali sangat maju, dan mengalami lompatan kemajuan yang signifikan dari semua sektor, hal itu karena dipengaruhi oleh luas wilayah yang tidak terlalu luas dan balance dengan finance (Pendapatan keuangan, putaran keuangan dari aktivitas kepariwisataan, suport budget pembangunan pemerintah pusat, pemerintah Provinsi dan Kabupaten), finance life cycle atau roda perputan uang yang balance dan mampu mengkover pembangunan seluruh wilayah di Bali, dalam hal ini dapat dilihat secara tersirat bahwa kemajuan suatu wilayah dapat dipengaruhi oleh luas wilayah, artinya jika luas wilayah suatu daerah atau provinsi menjadi faktor penghambat dan lambat majunya suatu provinsi.
NTT akan mengalami lompatan kemajuan yang signifikan apabila adanya transformasi wilayah pelayanan administrasi pemerintahan atau pemekaran, luas wilayah pembangunan menjadi sempit maka dipastikan fokusing anggaran pembangunan akan menjadi efesien dan efektif serta menjangkau semua wilayah maupun semua sektor pembangunan.
Papua dikenal dengan provinsi yang sangat luas dan telah berhasil menjadi daerah otonomi baru (DOB) menjadi empat provinsi baru baik Papua Selatan, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Barat, pemekeran tersebut adalah untuk mencapai goal pemerataan pembangunan yang efesien di semua sektor.
Carrying capacity atau jumlah maksimum dalam hal ini Jumlah penduduk, jumlah pendudu NTT secara umum menurut BPS NTT mencatat pada tahun 2023 Jumlah penduduk NTT sebanyak 5.466.285 jiwa, rata-rata jumlah penduduk 200 ribu keatas, dalam pembagiannya Jumlah penduduk terbanyak berada di Kota Kupang yaitu sebanyak 465.637 jiwa atau 8,52 persen dari total penduduk NTT. Sementara Bali dengan luas wilayah tak sebanding dengan luas NTT juga memiliki jumlah penduduk yang tidak jauh berbeda dengan jumlah penduduk NTT, Bali Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri pada akhir tahun 2023, penduduk Bali berjumlah 4.344.554 jiwa.
Ditinjau dari Potensi Daerah NTT memiliki beragam potensi unggulan baik itu potensi pariwisatanya baik potensi alamnya seperti Kawasan super prioritas Labuan Bajo di Flores, di Sumba ada Nihiwatu, di Pulau Rote ada Pantai Nembrala, Pulau Timor ada Kolbano, Fatumnasi sedangkan potensi budaya NTT pada umumnya memegang teguh budaya warisan yang unik dan tidak ditemukan di manapaun seperti di Sumba ada Pasola, di Manggarai ada tarian caci, di Pulau Timor ada suku terdalam yakni sukus Boti yang mempertahankan tradisi leluhur hingga kini, selain itu masih terdapat beragam potensi pariwisata lainnya, dengan jumlah kunjungan wisatawan baik itu wisatawan mancanegara dan domestik yang meningkat cukup signifikan dari tahun ketahun.
Potensi pertanian dan perkebunan berdasarkan data BPS NTT tahun 2023 mayoritas masyarakat NTT lebih dari 60 persen adalah petani, produktivitas tanaman pangan menyumbang 8,86 persen dari total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di Provinsi NTT. Sedangkan kontribusi dari subsektor peternakan NTT termasuk mengirim kuota sapi keluar cukup banyak, dari hasil-hasilnya mampu mencapai 9,48 persen, selain itu sebagian masyarakat juga bermukim di pesisir pantai yang berprofesi sebagai nelayan bahkan menyambung hidup dari hasil laut NTT yang sangat kaya, baik itu rumput laut NTT yang dieskpor hingga ke luar negeri karena dijuluki sebagai rumput laut terbaik dari hasil riset yang telah dilakukan, selain itu, lobster NTT juga berpotensi bahkan jadi incaran untuk di ekspor hingga keluar negeri juga.
Pertimbangan kemampuan ekonomi pada dasarnya merupakan perubahan dalam tingkat pertumbuhan ekonomi, pengurangan ketimpangan pendapatan dan pemberantasan kemiskinan dan pembangunan ekonomi meliputi empat dimensi pokok yakni (1) pertumbuhan, (2) penanggulangan kemiskinan, (3) transformasi ekonomi, dan (4) berkelanjutan pembangunan dari masyrakat agraris menjadi masyarakat industri.
Indikator yang dapat digunakan untuk mengukur kondisi perekonomian suatu wilayah adalah Produk Domestik Bruto (Gross Domestic Product atau GDP) baik tingkat nasional dan tingkat provinsi dan kabupaten/kota adalah Produk domestik Domestik Regional Bruto (PDRB), indikator ini adalah tingkat pertumbuhan, pendapatan perkapita, dan pergeseran atau perubahan struktur ekonomi (Sjafrizal, 2014).
Badan Pusat Statistik NTT meneyebut bahwa ekonomi provinsi berbasis kepulauan itu tumbuh sebesar 4,14 persen year on year (yoy) pada triwulan IV 2023, Prosentase ini meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 2,08 persen yoy, pertumbuhan ekonomi NTT itu tercatat di seluruh lapangan usaha, sementara dari sisi pengeluaran pertumbuhan didorong oleh meningkatnya konsumsi pemerintah , investasi, dan ekspor.
NTT memiliki beragam potensi disetiap daerah yang apabila didukung oleh pemerintah secara optimal maka potensi yang dimiliki dapat memiliki produktifitas yang tinggi bahkan dapat terserap dengan baik di dunia market.
Sosial budaya, NTT memiliki keragaman budaya yang menonjol dibandingkan sebagian besar provinsi lainnya, NTT memiliki keragaman budaya dan tradisi yang beragam seperti di Pulau Timor memiliki kekayaan budaya yakni rumah adat masing-masing suku di Timor, rumah adat Desa Wae Rebo yang dinamakan “Mbaru Niang”, dalam konteks Indonesia bagian timur merupakan tempat suci, hal ini di karenakan rumah adat menjadi pusat dunia dari sebuah masyarakat dengan kesakralan yang tinggi karena dihuni oleh roh-roh leluhur dan terdapat benda-benda peninggalan dari leluhur, serta nilai-nilai mitos lainnya, terdapat juga ritual-ritual, NTT kaya memiliki beragam budaya di setiap pulau maupun suku yang masih terawat dengan baik hingga kini.
Sosial politik, NTTmerupakan salah satu provinsi yang cukup tertinggal di Indonesia, angka kemiskinan yang tinggi layak menjadi indikator utama kondisi ketertinggalan pembangunan di NTT, salah satu faktor penyebab ketertinggalan NTT karena adanya disparitas pembangunan nasional antara Kawasan Timur Indonesia dan Kawasan Barat Indonesia, selain itu minimnya pembangunan yang dilakukan di NTT.
Sumberdaya manusia (SDM), BPS NTT menyebut indeks pembangunan manusia (IPM) mengukur capaian pembangunan manusia berbasis sejumlah komponen dasar kualitas hidup dibangun melalui pendekatan tiga dimensi dasar berupa umur panjang dan sehat; pengetahuan, dan kehidupan yang layak, pertumbuhan IPM 2023 mengalami percepatan dari tahun sebelumnya diseluruh dimensi terutama dimensi pengetahuan dan dimensi standar hidup layak, dapat diperhatikan secara saksama dan holistik, NTT mengalami peningkatan kualitas SDM dalam hal pengetahuan yang luarbiasa serta berkontribusi secara aktif tidak hanya ditingkat Provinsi tetapi juga berkontribusi hingga tingkat internasional di semua sektor seperti pada sektor pendidikan, sedangkan di sektor politik SDM NTT juga dapat dicermati memberikan andil di tingkat nasional baik itu di bidang politik seperti Ansy Lema, Herman Hery, Viktor Bungtilu Laiskodat, Benny Harman dan tokoh politik lainnya di kancah nasional.













