Dampaknya sangat nyata bagi masyarakat. Abu vulkanik dapat menutupi rumah, jalan, kebun, tanaman, sumber air, dan fasilitas umum, serta menimbulkan gangguan kesehatan seperti iritasi mata dan saluran pernapasan. Aktivitas pertanian, sekolah, perdagangan, transportasi, dan kehidupan sehari-hari ikut terganggu. Bagi sebagian warga, dampaknya bahkan jauh lebih berat karena mereka harus meninggalkan kampung halaman dan hidup dalam hunian sementara (huntara) untuk waktu yang panjang.
Persoalan yang masih dirasakan masyarakat adalah masa depan relokasi dan hunian tetap. Pemerintah sebenarnya telah menetapkan sejumlah desa yang perlu direlokasi dan beberapa lokasi calon hunian tetap juga telah dipersiapkan. Namun prosesnya menghadapi berbagai kendala, termasuk kesiapan lahan, status kawasan, persoalan tanah ulayat, serta pembangunan hunian tetap. Pada Juli 2026, BNPB masih berdialog langsung dengan warga di Huntara Konga untuk mendengar keluhan dan mempercepat solusi pemulihan jangka panjang.
Karena itu, bagi masyarakat terdampak, persoalannya bukan lagi sekadar menghadapi letusan dan abu vulkanik, tetapi juga menunggu kepastian kapan mereka dapat kembali memiliki rumah yang aman, lahan untuk bekerja, sekolah bagi anak-anak, serta kehidupan yang normal dan berkelanjutan. Mereka membutuhkan bukan hanya bantuan pada saat bencana terjadi, tetapi juga kepastian dan percepatan penyelesaian relokasi agar tidak terlalu lama hidup dalam ketidakpastian.













