Aktivitas yang terus berulang membuat masyarakat di sekitar gunung harus hidup dalam kewaspadaan. Hujan abu dapat menutupi atap rumah, jalan, kebun, tanaman dan sumber air, sekaligus menimbulkan iritasi mata dan gangguan saluran pernapasan.
Bagi masyarakat yang sebagian kehidupannya bergantung pada pertanian dan perkebunan, abu vulkanik dapat mengganggu tanaman dan menurunkan hasil produksi. Ketika aktivitas meningkat, masyarakat juga harus membatasi kegiatan di luar rumah, sementara sekolah, perdagangan dan transportasi dapat terganggu.
Kehidupan di sekitar gunung api akhirnya bukan hanya persoalan menghindari letusan, tetapi juga bagaimana masyarakat tetap bekerja, menyekolahkan anak, menjaga kesehatan dan memperoleh penghasilan dalam situasi yang penuh ketidakpastian.
6. Gunung Lewotobi Laki-laki, Flores Timur, 27 Agustus 2026
Saudara-saudara kita di Flores Timur hingga kini masih harus hidup berdampingan dengan ancaman Gunung Lewotobi Laki-laki. Pada 27 Agustus 2026, gunung ini kembali mengalami erupsi dengan kolom abu mencapai sekitar 2.500 meter di atas puncak.













